BMKG: Siklon Tropis Berdampak Global Warming

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan siklon tropis berpotensi berjalan tiap-tiap th. kalau tidak tersedia usaha yang dikerjakan untuk menekan pemanasan world atau krisis iklim.

“Global warming sesungguhnya terlalu mesti dimitigasi. Kalau tidak situasi siklon [tropis] bakal kejadian teratur tiap-tiap tahun, jadi normal. Ini yang mesti diantisipasi bersama,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati melalui siaran segera di Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (6/4).

BERITA TERBARU – Dwikorita menyampaikan proyeksi ini berkaca terhadap kejadian siklon tropis didalam kurun kala empat th. ke belakang. Menurutnya, sejak 2017 selanjutnya siklon tropis konsisten berjalan tiap-tiap th. sampai hari ini.

“Indonesia udah mencatat sejak 2008 tersedia 10 tropical cyclone. Namun 2008 berjalan sekali, selanjutnya 2010, selanjutnya 2014. 2-4 th. sekali. Tapi sejak 2017 itu tiap-tiap th. selamanya terjadi. Dan bahkan didalam satu th. bisa dua kali,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dwikorita menyebut siklon tropis seroja th. ini, yang menyebabkan merupakan siklon terdahsyat yang pernah berjalan di Indonesia.

Dwikorita mengatakan siklon tropis seroja terbentuk dengan kecepatan 85 kilometer per jam terhadap Sabtu (3/4) dan bakal konsisten menguat dan juga berputar di wilayah perairan NTT sampai besok, Rabu (7/4).

Menurutnya, siklon tropis kali ini tidak serupa dengan siklon tropis sebelum-sebelumnya. Pada kejadian sebelumnya, siklon tropis biasanya terbentuk di lautan.

Jika tersedia anggota berasal dari siklon yang memasuki daratan, biasanya hanya anggota siklon yang lebih lemah dan bakal segera terurai sehingga tidak mengakibatkan efek besar.

Tapi terhadap kejadian ini, Dwikorita mengatakan siklon tropis seroja justru terbentuk di area pulau, sehingga anggota terkuat berasal dari siklon berada di wilayah daratan.

“Bayangkan kecepatan kala terbentuk pusarannya 85 kilometer per jam. Jadi seroja kala terbentuk udah masuk Kupang, [bagian yang] merah, yang kuat pusaran tinggi di darat. Ini yang baru pertama kali berjalan di Indonesia,” ujarnya.

Kondisi ini, kata Dwikorita, bisa berjalan sebab tersedia peningkatan suhu wajah air laut yang disebabkan oleh mengolah emisi gas rumah kaca. Menurutnya, laju siklon tropis bisa jadi nampak sebab pemanasan global.

“Laut itu area mengabsorbsi CO2 (karbon dioksida) dan itu efek berasal dari gas rumah kaca. Bisa dirunut ke sana. Ini baru hipotesis. Tapi tersedia korelasinya dengan peningkatan suhu wajah air laut yang tergoda world warming,” katanya.

Sebelumnya, banjir bandang melanda NTT sejak Minggu (4/4). Akibat bencana tersebut, 128 orang dilaporkan meninggal dunia, 103 orang tetap didalam pencarian, dan 8.424 orang berasal dari 2.019 keluarga mesti mengungsi.

BMKG menunjukkan situasi siklon tropis seroja tetap bakal menguat sampai besok di perairan NTT. Selain menyebabkan hujan, siklon tropis seroja terhitung bisa mengakibatkan gelombang laut sama tsunami masuk ke daratan.