5 Kuliner Khas Jawa ini, Ternyata Menyimpan Makna Filosofi yang Unik dan Dalam!

Sumber : www.kulinermalang.com

Bagi masyarakat Indonesia yang junjung nilai budaya, mengartikan lambang di suatu hal sebagai elemen utama di kehidupan. Satu diantaranya mengartikan lambang pada makanan. Apa lagi pada beberapa makanan tradisionil ciri khas Jawa. Umumnya dimulai dari bahan dan penampilannya mempunyai filosofi khusus. Filosofi kulineran ciri khas Jawa termasuk cukuplah unik lo, karena punyai arti yang terkait dengan kehidupan manusia, alam dan ketuhanan.

 

Filosofi kuliner ciri khas Jawa yang unik ini umumnya ada pada beberapa makanan yang dibikin mengingati kejadian atau acara tertetentu. Karena sangat dalamnya arti filosofi itu membuat setiap hidangan nyaris dapat ditegaskan mempunyai elemen yang serupa, untuk jaga artinya. Yok, baca kulineran ada kulineran apa dan bagaimana arti filosofinya!

 

  1. Tumpeng untuk masyarakat Jawa sebagai representasi jalinan manusia dengan Tuhan dan jalinan manusia dengan alam dan sama-sama

 

Dalam berbagai perayaan dan peringatan tertentu, tumpeng seolah harus ada sebagai lambang rasa sukur dan keinginan yang tinggi. Wujud tumpeng menyengaja dibikin dari nasi sebagai makanan dasar yang dibuat seperti gunung. Ini bermakna penghormatan pada Tuhan yang Maha Agung. Selentara itu, dikitarinya ada bermacam lauk dari sayur dan daging. Umumnya, lauk pauk sejumlah 7 jenis, dengan bahasa Jawa 7 disebutkan dengan ‘pitu‘ yang memiliki arti pitulungan (bantuan). Ini bermakna jika manusia selalu memerlukan bantuan dari Tuhan.

 

Secara keseluruhan, tumpeng diartikan sebagai bentuk rasa sukur manusia ke Tuhan atas ketenangan dan kondisi alam yang bagus. Kata ‘tumpeng’ sendiri sebagai akronim Jawa dari kalimat ‘yen metu harus mempeng‘ (saat keluar harus sungguh-sungguh). Kalimat itu memiliki kandungan arti jika manusia yang dilahirkan ke dunia harus jalani kehidupan dengan sungguh-sungguh.

 

  1. Ketupat sama dengan perayaan hari besar Islam khususnya Idulfitri dan simpan arti pernyataan salah atau sama-sama memaafkan

 

Ketupat dengan bahasa Jawa disebutkan dengan kupat. Kupat sendiri sebagai akronim dari ‘ngaku lepat’ (akui salah). Nach, disini jelas sudah ya, kenapa ketupat jadi keunikan saat Idulfitri. Ketupat umumnya dihidangkan sebagai makanan khusus pengiring beragam lauk ciri khas Idulfitri yang dikonsumsi selesai acara sungkem atau sama-sama maafkan.

 

  1. Lontong sama dengan perayaan Idulfitri di sejumlah daerah di Jawa, lo!

 

Lontong merupakan akronim Jawa dari kalimat ‘olone dadi konthong’ (kejelekan yang telah lenyap). Lontong yang dikonsumsi saat Idulfitri jadi lambang jika manusia sudah kembali suci sesudah tempuh Ramadan dan sama-sama maafkan pada sama-sama. Lontong sendiri seperti ketupat yang pas dijadikan makanan dasar pengiring lauk ciri khas Idulfitri. Namun, bila ketupat umumnya dibuntel janur atau daun kelapa muda, lontong dibuntel memanjang dengan daun pisang.

 

  1. Sayur lodeh dalam suatu acara atau perayaan tertentu, jadi lambang tolak bala atau pencegah terburukan

 

Sebenarnya, sayur lodeh sebagai sajian yang umum dihidangkan setiap hari di dalam rumah. Langkah mengolahnya yang simpel dan berbahan juga gampang didapatkan, membuat sayur lodeh lumayan disukai banyak kelompok. Tetapi, bila kamu menemui sayur lodeh pada suatu perayaan atau kenduri ciri khas Jawa, sayur lodeh ini punyai arti penting.

 

Dalam acara kenduri di Jawa, sayur lodeh terbagi dalam 12 kompenen yaitu labu kuning, kacang panjang, terong, kluwih, daun so, kulit mlinjo, labu siap, pepaya muda, nangka muda, kobis, sayur bayung, kecambah, kedelai. 12 elemen sayur lodeh ini jadi lambang menampik terburukan yang dapat terjadi saat acara kenduri dan selanjutnya.

 

  1. Kolak yang memiki banyak arti dimulai dari pernyataan dosa, sikap kapok sampai mengingatkan kematian

 

Kolak biasanya sama dengan bulan Ramadan karena cita-rasa manisnya benar-benar pas jadi menu berbuka puasa. Kulineran yang telah ada semenjak jaman wali ini rupanya berasal daro kata ‘khala’ yang maknanya kosong. Kolak yang dikonsumsi saat Ramadan mengingati kita untuk selalu kosongkan dosa dengan bertaubat dan menggalakkan beribadah. Disamping itu, kolak yang dibuat dari pisang Kepok memiliki kandungan makna lain lo. Kepok disimpulkan dengan ‘kapok’ (kapok).

 

Sementara itu, kolak ubi memiliki kandungan arti tertentu. Ubi yang dari dalam tanah diartikan sebagai pengingat jika tiap manusia akan mati dan dipendam dalam tanah. Sejara keseluruhnya, kolak pisang dan ubi mempunyai filosofi yang paling dalam, yaitu tiap manusia harus selalu bertaubat atau kapok hingga tidak mengulang dosa dan dapat wafat pada kondisi yang bagus.

 

Wah ternyata orang Jawa benar-benar filosofis ya! Kulineran sedap yang umumnya kita kira simpel, rupanya simpan arti filosofi yang dalam.